Mungkin terdengar agak sedikit ‘lucu’,
“Cinta itu seperti jelangkung“.
Datang tidak dijemput,
Pulang tidak diantar.

Ia datang tanpa dicari,
Tanpa disadari, selama ini ia ada disampingnya.
Tapi celakanya semua disadari
sesaat setelah ia pergi.

Ia berlari meraih tangannya, memohon kepadanya.
“Aku mencintaimu, maafkan selama ini kalau aku tidak
pernah memiliki cukup kata untuk menggungkapkannya,
sedikit perbuatan sehingga membuatmu ragu”

“Aku mencintaimu! Jangan pergi!
tetaplah disini, disampingku!”
Namun terlambat, sayap telah membawanya pergi,
Meninggalkan banyak penyesalan.

Alangkah bahagianya orang yang bisa
merasakan cinta ketika ia ada,
mencintai cinta disaat kesempatan itu ada.

Betapa malangnya pria ini.
Marah, menyesali kebodohannya sendiri.
Sepanjang hari menghukum dirinya dengan penyesalan.

“Mengapa…
Mengapa…
Mengapa…